Selasa, 09 Desember 2008

BABAH

Babah seorang yang beperawakan kecil berbeda dengan keempat kakaknya, wajahnya tirus, hidung mancung (inilah yang selalu anak2nya sesali kenapa hidungnya ga nurun Babah). Alisnya tebal dan rapi. Kulitnya sawo matang tapi tidak begitu gelap. Menurutku Babah ganteng, namun beratnya pekerjaan dan kebiasaan rokok membuatnya terlihat lebih tu dari usia sebenarnya.

Sejak berusia lima tahun Babah sudah menjadi yatim. Ia anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya laki-laki. Atok (panggilan untuk kakek) meninggal diusia muda (sekitat 40 tahun). Atok meninggal karena peluru nyasar Belanda (sktr thn 50’an). Menurut Uwak(kakak kedua Baba) Atok tertembak sewaktu bekerja di bengkelnya dan entah dari mana ada peluru yang nyasar mengenai bokongnya, waktu itu Atok sempat beberapa hari hidup tapi mungkin karena infeksi atau apa akhirnya Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Setelah Atok meninggal satu persatu harta peninggalannya dijual Nenek untuk kehidupan sehari-hari. Setelah harta peninggalan mulai habis , Babah dititipkan di rumah pamannya, istilahnya “numpang”. Dulu Babah sering bercerita tentang pengalamannya ketika numpang di rumah pamannya. Raut wajah sedih pasti menyertai kisahnya. Ia harus melakukan pekerjaan rumah yang banyak sedangkan sepupu-sepupunya (anak paman yg ditumpangi) bersantai-santai. Jika pekerjaan belum selesai tapi perut sudah terasa lapar ia harus menahannya, karena tidak berani makan sebelum pekerjaan selesai, atau jika pekerjaan rumah tidak menjadi masalah tapi wajah paman atau istrinya terlihat masam ia pun tak berani untuk makan. Setelah berkisah biasanya babah mengakhirinya dengan kalimat “Kalian sangat enak jika dibandingkan kami (babah dan Emak) dulu, mau makan tinggal makan ga pake dimarahi malah disuruh, sekolah baju seragam tinggal pake*..bla..bla..bla*”. Kalau sudah begitu kami mulai mundur perlahan supaya ga dengar nasehat lagi.

Babah religious, ia rajin ibadah, sholat lima waktu selalu dilaksanakannya, berbeda dengan temannya seprofesi yang meninggalkan sholat fardhu, dan tidak puasa waktu bulan Ramadhan. Jika adzan sudah terdengar Babah bergegas pulang dengan pakaian dinasnya yang sudah menghitam karena oli. pakaian yang jika mencuci aku menggabungkannya dengan kain lap dapur*Maafkan aku ya Bah* Beliau tidak bisa langsung wudhu karena harus membersihkan tangan dan kakinya yang kena oli juga. Setelah bersih barulah ia mulai wudhu dan sholat. Jika waktu sholat magrib babah memanggil kami semua untuk sholat berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan membaca Al Quran, Babah dan Emak mengajari kami secara bergiliran. Jika kami malas untuk sholat babah memarahi kami dan mengatakan ialah yang akan ditanyai Allah nanti kami tidak sholat. *Duhai Allah, ampunilah dosa-dosanya dan terimalah ibadahnya, berilah ia tempat yang baik dan jauhkanlah ia dari siksaMu*

Babah meninggal di usia 56 tahun, sakit diabetes yang tlah lama dideritanya dan aku juga yakin kebiasaan merokoknya paling berkontribusi atas buruknya kesehatannya. Aku dan emak dirumah ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah beberapa bulan menderita sakit yang amat sangat dan kulit punggungnya mulai melepuh karena terlalu lama berbaring. Emak mendampingi di detik2 terakhirnya, Setelah menyebut asma Allah beliaupun meninggal dunia *Maafkan aku Bah karena belum sempat berterima kasih atas jasa2mu padaku*

Di sini aku ingin mengucapkan kalimat yang tak pernah kuucapkan padamu ketika engkau hidup. Aku sayang padamu Bah.

My Family

Aku lahir di sebuah kota kecil di Pulau Sumatera. Keluargaku sederhana tidak miskin tapi jauh dari kategori kaya. Aku lahir tiga puluh tahun lalu. Anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak sulungku laki2 dan telah meninggal ketika berumur 14 bulan, menurut emak kakak meninggal hanya karena diare ringan selama dua hari. Tak satupun dari adik2nya bertemu dengan kakak. Kami mengenalnya hanya dari foto hitam putihnya dan dari cerita emak saja . Wajah kakak sangat menggemaskan, tampan. Kata emak tak satupun dari kami mirip dengannya, hanya jidatku saja yg kata emak mirip dengan jidatnya . Dulu aku sering membayangkan kalau kakak masih hidup pasti menyenangkan bisa bermain dengannya.

Kakakku yg kedua perempuan. Bisa dibilang dari kami semua wajahnya bisa dikatakan paling tidak menarik. Wajah bundar hidung pesek (mirip emak) dan postur tubuhnya paling pendek dari kami berempat(yg masih hidup). Tapi menurutku kakakku ini paling punya kelebihan dan keistimewaan sehingga banyak orang yang senang bergaul dengannya. Namun hubunganku dengannya sangatlah tidak harmonis, dia memperlakukanku berbeda perlakuannya dengan dua adikku. Aku dulu sering bertanya dalam hati. Kenapa sepertinya dia sangat benci padaku . Mengenai kakak aku akan kisahkan tersendiri karena panjang jika diuraikan disini.

Kemudian aku si anak tengah, k3tiga dari lima bersaudara, kemudian keempat adik perempuanku, dan yg bungsu adik laki2ku. Kami semua rata2 berjarak dua tahun.

Babah (ayah) ku seorang montir mobil, beliau membuka bengkel tak jauh dari rumah kami. Babah beberapa kali pindah tempat karena Ia hanya menyewa tempat, tapi hampir tak pernah jauh dari rumah. Sekarang Babah sudah tiada, Ia meninggal tujuh tahun lalu.

Emak seorang ibu rumah tangga yang mencari tambahan penghasilan dari jual barang secara kredit. Hasilnya lumayan bisa membiayai sekolah dan kursus tambahan lain. Mengenai ibu juga akan dikisahkan tersendiri.